Little Ubud River Tubing

Apa yang terlintas di pikiran Bro dan Sis saat mendengar kata Little Ubud River Tubing?

Coba Bro dan Sis bayangkan pemandangan sawah yang luas menghijau bagaikan suasana di Desa Ubud yang terletak di Pulau Bali.

Sinar matahari pagi yang cerah terpancar, suasana alam yag awalnya sunyi ditimpali suara derasnya air sungai dan kicauan burung pagi. Serombongan itik melintasi hamparan sawah yang terbentang luas. Sawah menghijau bertingkat-tingkat, menjadi suguhan pemandangan yang sangat menenangkan pikiran dan perasaan.

Dan ini semua bukan di Bali, tapi di Kabupaten Magelang, sekitar 40 km dari pusat Kota Jogja.

Little Ubud River Tubing Wisata Jelajah Sungai Terbaik
Indahnya Landscape Little Ubud

Little Ubud River Tubing adalah wahana wisata di Sungai Singgono yang terletak di Desa Tampir Wetan, Kecamatan Candimulyo, Kabupaten Magelang! Gak nyangka kan? Karena dekat dengan Jogja (cukup 1 jam perjalanan), banyak wisatawan yang mengira ini adalah Little Ubud Jogja. Hehehe.

Little Ubud Magelang ini menawarkan Wisata air yang aman dan nyaman, menikmati aliran sungai Singgono dengan menggunakan “kendaraan” berupa ban dalam yang sudah dilengkapi dengan alat pengaman.

Bro dan Sis akan dipandu oleh para pemandu berpengalaman.  Dilengkapi  dengan peralatan safety untuk melindungi keselamatan para wisatawan. Aman untuk yang tidak bisa berenang sekalipun.

Di Little Ubud Magelang, Bro dan Sis akan menikmati serunya bermain air di sungai yang bersih dengan aliran air yang sangat bening karena terletak di bagian hulu sungai. Memakai perlengkapan safety yang memenuhi standar keselamatan. Helm, sepatu khusus, jaket pelampung, pelindung lutut dan siku dan sebuah ban dalam yang sudah dilengkapi dengan tali pengaman. Ditemani guide-guide yang ahli di bidangnya, sangat aman bagi wisatawan, bahkan untuk anak balita dengan tinggi badan minimal 100 cm.


Rute Termudah Menuju Little Ubud River Tubing

Hanya berjarak satu jam perjalanan dari Kota Yogyakarta, atau dua jam perjalanan dari Kota Semarang. Little Ubud River Tubing bisa Bro dan Sis capai dengan menggunakan kendaraan motor, mobil kecil, ataupun bis. Di sepanjang perjalanan dari Yogyakarta menuju Desa Tampir Wetan, kita akan disuguhi pemandangan indah khas pedesaan yang alami dan belum tercemar oleh polusi.

Little Ubud River Tubing Wisata Jelajah Sungai
Googlemaps menuju lokasi Little Ubud River Tubing

Sebelum memasuki wilayah Kota Magelang, dari arah jalan Magelang-Yogyakarta, Bro dan Sis akan dibawa masuk ke jalan khusus menuju Little Ubud River Tubing. Nikmati hamparan sawah yang hijau terbentang luas. Dibelah oleh jalanan lurus dengan kondisi aspal yang sudah bagus, menjadi pembuka wisata alam yang indah ini.

Sekitar 3 kilometer, Bro dan Sis akan sampai di basecamp Little Ubud River Tubing. Disana sudah disediakan suguhan Wedang Tampir (minuman khas Desa Tampir Wetan).  Wedang Tampir ini  terbuat dari seduhan air Jahe dan beberapa ramuan alami yang menghangatkan dan menyehatkan badan.

Little Ubud River Tubing
Hamparan sawah sepanjang perjalanan ke Little Ubud River Tubing

Bro dan Sis bisa langsung mendaftar ke bagian reservasi, dilayani oleh petugas yang ramah, dengan biaya yang sangat murah. Rp. 40.000/orang untuk menikmati pengalaman river tubing berikut sewa perlengkapan safety standar dan jasa pemandu yang terlatih dan berpengalaman. Disana sudah  tersedia fasilitas toilet dan mushola yang memadai untuk digunakan oleh para wisatawan.

Yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Aktifitas River Tubing di Little Ubud

River Tubing adalah aktifitas yang melibatkan kesiapan fisik yang prima. Karena berkaitan dengan wisata alam yang kondisinya dinamis dan berubah-ubah. Lalu apa saja sih yang perlu dipersiapkan sebelum menikmati keseruan wisata jelajah sungai ini?

  1. Persiapan Fisik
    Pastikan dulu kondisi badan Bro dan Sis sedang sehat dan cukup istirahat. Total perjalanan wisata ini sekitar 1 jam dan sebagian besar dilakukan di dalam air yang bersuhu cukup dingin. Konsultasikan pada tim pemandu apabila ada penyakit bawaan yang perlu dicermati. River tubing adalah aktifitas yang tidak lepas dari resiko terkena benturan dari bebatuan yang ada di sepanjang sungai.  Lakukan pemanasan secukupnya untuk melemaskan otot dan badan sebelum menjalani aktifitas river tubing.  Selama Bro dan Sis disiplin mengikuti arahan dari para pemandu, maka resiko itu akan bisa diminimalisir.

    Aliran Sungai Singgono Little Ubud River Tubing
    Persiapan fisik diperlukan sebelum menikmati serunya river tubing.
  2. Persiapan Pakaian
    Pakailah pakaian yang simple dan terbuat dari kain / kaos yang relatif ringan saat terkena air. Hindari pakaian berbahan jeans karena saat terkena air akan terasa berat di badan. Lebih baik gunakan kaos dan celana panjang untuk meminimalisir resiko luka tergores sisi sungai yang berbatu.
  1. Titipkan gadget dan barang berharga pada petugas di basecamp.
    Tidak usah membawa perlengkapan yang berlebihan termasuk tas yang mengganggu kebebasan gerakan badan. Bila ingin menggunakan gadget untuk berfoto, gunakan jenis gadget yang anti air atau lindungi gadget Bro dan Sis dengan pelindung waterproof agar tidak rusak terkena air.
  2. Gunakan peralatan safety yang disediakan sesuai dengan arahan tim pemandu. Pasang dengan cara yang baik dan benar, cek sekali lagi untuk memastikan.
  3. Perhatikan baik-baik briefing dari para pemandu, terutama untuk menyamakan pola komunikasi apabila di tengah perjalanan kita membutuhkan bantuan mereka.

Okesip, jika persiapan sudah matang, saatnya kita menikmati perjalanan wisata di Little Ubud River Tubing.


Menikmati Serunya Wisata Little Ubud River Tubing

Setelah briefing, dari basecamp Bro dan Sis akan dibawa menuju titik start sebelum turun menuju hulu sungai. Menggunakan mobil bak terbuka, menempuh perjalanan sekitar 500 meter ke titik start yang ditentukan. Perlengkapan ban sudah dibawa sebelumnya kesana, Bro dan Sis tinggal menikmati pemandangan sepanjang perjalanan.

Perjalanan Little Ubud River Tubing
Perjalanan menuju titik start river tubing

Dari titik start, kita masih harus berjalan menyusuri pematang sawah sambil membawa ban  menuju tepian Sungai Singgono. Dengan jarak sekitar 300 meter, melintasi deretan persawahan dan jembatan bambu yang menjadi ikon foto di Little Ubud.

Spot Selfie Little Ubud River Tubing
Selfie dulu di jembatan bambu Little Ubud River Tubing

 

Little Ubud River Tubing, susur sawah
Susur Sawah: Disinilah perjalanan menuju start point. Dengan jarak tempuh sekitar 10 menit jalan kaki, peserta diajak untuk menikmati bentang alam persawahan yang cakeeeep & ijo royo-royo.

 

Little Ubud River Tubing, sawah terasering
Salah satu spot untuk berfoto. Paling bagus view nya kalo musim tanam padi atau sebelum panen. Ijoooo semua dengan undak-undakan terasering. Asoooy bro.

Begitu sampai di tepian sungai, Bro dan Sis siap-siap ya menceburkan diri ke sungai. Tenang, ada para pemandu yang membantu persiapan menaiki ban yang akan melaju. Mulailah petualangan menjelajahi aliran sungai yang seru dan menantang dan aman karena mengikuti arahan dari para pemandu.

Melintasi Jeram Little Ubud River Tubing
Serunya melintasi jeram di Little Ubud River Tubing

 

little ubud river tubing, jeram sungai
Belasan jeram ekstrim dan puluhan jeram kecil dilewati saat kita river tubing di Little Ubud. Serunya gilaaaaa..!

 

little ubud river tubing, jeram sungai
Kebayangkan kalo kita river tubing trus ketemu jeram yang heboh gini?

Di tengah perjalanan, terdapat sebuah air terjun buatan setinggi sekitar 2 meter. Seluruh wisatawan diminta turun dari ban menuju ke bagian bawah air terjun. Ada dua pilihan cara, pertama adalah dengan menuruni tangga besi yang ada. Kedua adalah dengan terjun ke dalam dam penampung air.

Little Ubud River Tubing, pijat alami di air terjun
Natural body massage ala Little Ubud River Tubing. cukup tempelkan badan di dinding tebingnya. Nikmati pijatan alami oleh terjunnya air. Uenakeee…

 

little ubud river tubing
Kebayang asyiknya di spot air terjun ini? Hebooooh bro. Little Ubud udah jadi destinasi wajib kalo bro sis ngetrip ke Jogja dan sekitarnya.

 

Little Ubud River Tubing
Asooooy geboy. Gini loh serunya beraktifitas di Little Ubud.

Hempasan air terjun itu bisa Bro dan Sis gunakan untuk pijat refleksi badan. Caranya dengan duduk tepat di bawah curahan air terjun. Relaksasi yang menyenangkan. Sambil mengabadikan kenangan indah hari itu.

Jeram Refleksi Little Ubud River Tubing
Pijat refleksi ala Little Ubud River Tubing

Setelah cukup beristirahat, perjalanan dilanjutkan. Menaklukkan jeram-jeram kecil di sela bebatuan, melepas kepenatan, berteriak gembira, harmoni bersama alam. Adrenalin meningkat seiring derasnya aliran sungai dan gerakan ban yang meliuk-liuk mengikuti aliran sungai.  Tim pemandu berjaga di depan dan belakang wisatawan, siap siaga membantu dan menjaga keselamatan peserta.

Little Ubud River Tubing
Emang deh, kalo river tubing itu paling seru ramean sama temen-temen 1 geng. Ya gini nih…

Hingga akhirnya aliran sungai makin melambat dan tenang, keheningan terasa sangat damai. Little Ubud River Tubing menyisakan kenangan yang dalam dan menyenangkan.

Relaksasi Little Ubud River Tubing
Relaksasi, menikmati aliran sungai yang tenang dan menenangkan

 

Little Ubud River Tubing
Lokasi : Desa Tampirwetan, Kecamatan Candimulyo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Indonesia.

Open daily : 07.00 – 17.00 WIB
Ticket : Rp. 40.000/person

sumber : https://tripjogja.co.id/little-ubud-river-tubing/

 

uba

10 Tempat Kuliner di Malioboro yang Harus Dicoba

Siapa yang tidak kenal dengan Yogja, kota 1001 wisata dengan selalu mempertahankan kebudayaanya hingga saat ini. Tentu saja kota yang diakui dunia sebagai salah satu tempat teristimewa dihati para turis lokal maupun internasional, ternyata juga menyimpan tempat wisata kuliner terbilang enak dan tidak ada duanya. Pastinya harus anda coba kalau liburan ke kota yang terkenal dengan oleh-oleh khasnya yaitu Bakpia. Mari kita berkenalan 10 tempat kuliner terenak di Malioboro. Selain terenak, tempatnya juga instagramable dan kurang lengkap jika tidak memanfaatkan momen liburan ini kedalam vlog atau akun sosmed anda.

Gudeg Yu Djum

Sumber: Instagram @tyabastiana

Gudeg merupakan kuliner nomor satu yang harus anda coba jika berlibur  ke Yogyakarta. Makanan khas Yogya ini bisa tergolong rasanya manis dengan racikan bumbu khas dan cara memasaknya juga khas yaitu mengunakan perapian tungku. Biasnya setiap emperan di sepanjang jalan Malioboro sangat banyak penjual gudeg yang rasanya bisa terbilang enak. Tetapi ada satu Gudeg yang paling enak di kawasan Malioboro yaitu Gudek Yu Djum. Berlokasi di Jalan Dagen no 2C Maliobro tidak sulit menemukannya. Karena Gudeg Yu Djum mempunyai cabang Gudeg terbanyak di Yogyakrta. Tentunya sambil menikmati satu porsi Gudeg yang dibandrol 7k-35k ini, anda bisa sambil menimati keramaian kota Yogyakarta.

Lumpia Samijaya

Sumber: Instagram @rainbowpacker

Selain terkenal dengan kota Gudeg, Yogya tidak kalah saling memanjakan lidah pengunjung dengan lumpia nya yang enak. Tidak perlu jauh-jauh berkeliling kota Yogya untuk mencicipi kuliner yang digoreng ini, anda bisa datang langsung ke Malioboro tepatnya berlokasi tidak jauh dari Halte Trans Yogya- Malioboro 2. Lumpia Sanjaya sudah sangat terkenal dengan rasanya yang sangat gurih dan lezat tidak mengecewakan sebarapapun porsinya. Anda bisa memilih lumpia sesuai selera anda seperti hanya sayur, ayam atau jumbo. Disajikan komplit dengan acar, potongan timun dan cabe, anda suda bisa menikmati kuliner khas Yogya ini dengan harga 3 rupiah per potong. Untuk menghindari antrian panjang, sebaiknya anda datang lebih awal.

Soto Ayam 61

Sumber: Instagram @nandramuhriana

Ada lagi kuliner Yogya yang tidak kalah menarik untuk dicoba, soto. Salah satu makanan terfavorit di kota Yogya bisa anda temui di Malioboro. Soto ayam 61 terbilang soto yang paling enak di kawasan Maliobro. Usaha turun temurun sejak tahun 1976 ini, berlokasi tidak jauh dari Ramai Mall. Soto yang terus mempertahankan citra rasanya tersebut, disajikan lengkap dengan sohun, suwiran ayam, seledri, telur dan lainnya. Untuk satu porsi soto komplit bisa dibeli seharga 11 ribu rupiah saja. Selain murah meriah dan enak,  soto bening ini menyediakan makanan pendamping seperti sate-satean, telur kecap, hingga gorengan membuat anda ketagihan untuk meraihnya terus-menerus kedalam mangkuk.

Bebek Goreng Lesehan Terang Bulan

Sumber: Instagram @fxandi

Jangan dikira terang bulan diartikan sebagai penekuk. Ini adalah lesehan yang menjual beranekaragam menu khusus untuk lesehan salah satunya adalah bebek goreng. Siapa yang tidak suka bebek? tentu saja kuliner yang satu ini merupkan yang harus anda coba di Malioboro. Tidak sulit menemukan lesehan yang terkenal dengan menu gorengnya terletak di depan toko Terang Bulan. Bebek goreng yang empuk disuguhkan lengkap dengan sambalnya plus lalapan selada, sangat enak dimakan dengan nasi panas. Selain bebek gorengnya yang lezat, ada menu lain yang juga direkomendasikan sperti burung dara goreng. Tidak diragukan lagi sambalnya sangat pas untuk dimakan bersamaan dengan menu penyet yang anda pesan.

Gado-gado Bu Hadi

Sumber: Instagram @gadogadobuhadi

Tidak lengkap jika anda melewati gado-gado Bu Hadi sebagai daftar menu makan siang anda di Maliobaro. Gado-gado ini sudah ada sejak tahun 1952 dengan citra rasa yang tdak diragukan lagi kelezatanya sangat ramai pengunjung.  Lokasi gado-gado Bu Hadi tepatnya di dalam pasar Beringharjo lantai 2. Perpaduan dari kesegaran sayuran dan gurihnya bumbu kacang adalah hal yang paling sederahan membuat gado-gado ini menjadi yang paling favorit di kawasan ini. Selain di juluki  sebagai gado-gado legendaris Yogyakarta, juga menjadi kuliner recommended dengan menu andalan lainnya seperti lotek, kupat tahu, dan es kopyor. Gado-gado Bu Hadi buka setiap hari pukul 08.00 pagi hinga pukul 15.00 sore.

Pecel Pincuk

Sumber: Instagram @gegodongan

Siapa yang belum mencoba pecel sego atau nama lain pecel pincuk di kawasan Maliobro? Rugi jika belum mencobanya. Pecel pincuk merupakan kuliner terenak selain sate yang selalu dijual dengan harga yang terbilang agak mahal. Tetapi rasanya tidak mengecewakan. Jika pecel ini mengecewakan, nasi pecel tidak akan dikunjungi banyak turis lokal maupun turis asing. Pecel pincuk yang paling enak di sekitar Maliobroro terletak persis di depan pasar Beringharjo. Tidak heran jika pengunjung sedikit kesusahan karena tempatnya sebagai aktifitas lalu lalang oleh pengunjung lainnya. Tetapi ini tidak menjadi halangan pengunjung untuk mencicipinya. Penasaran? pesan satu porsi pecel dengan tambahan mie, telur puyuh dan aneka gorengan. Bisa mengisi perut anda yang lagi keroncongan.

Nasi Goreng Beringharjo

Sumber: Instagram @meyryuvie

Nasi goreng Beringharjo merupakan nasi goreng terenak yang berlokasi di dua tempat. Jika ingin lokasi yang tidak jauh dari Malioboro, anda bisa menikmati kuliner ini pada malam hari di  pertigaan sebelah kiri jalan menuju Pasar Beringharjo. Diakui oleh bnayak pecinta kuliner sebagai nasi goreng legendaries Yogya sejak tahun 1960-an. Kombinasi dari budaya jawa dan cina, nasi goreng ini dibumbui dengan kecap, telur atau daging ayam dan ditambah dengan irisan bawang merah dan cabai mentah. Sangat cocok bagi anda pecinta kuliner pedas. Bagaimana tidak dengan sekali gigitan, cabe hijau akan naik ke ubun-ubun anda dengan sensasi pedasnya yang bisa-bisa membuat anda mati gaya. Tidak perlu menghindari antrian panjang untuk mencicipi nasi goreng tersebut, sebab nasi goreng sudah dimasak dalam jumlah besar.

Mie ayam Grabyas

Sumber: Instagram @voilajogja

Anda bingung ingin makan mie ayam tengah malam di kota Yogyakrta? Datang saja ke Malioboro persisnya tepat di depan hotel Ina Garuda ada mie ayam Grabyas. Mie ayam ini selain salah satu kuliner terenak di kawasan Malioboro selain ramai oleh pengunjung, mie ayam Grabyas sedang naik daun di Sosmed. Tidak begitu pasti mengapa mie ayam ini sangat terkenal namun banyak wisatawan mengakui jika makan mie ayam disini sensasinya beda telak makan mie ayam di siang hari. Mie ayam khas ini membuat cita rasa cendrung asin tidak seperti mie ayam Wonogiri. Dengan paduan mie berukuran kecil-kecil yang terbuat dari bahan baku gandum sehingga sangat mudah untuk di lahap.

Es Dawet Campur

Sumber: Instagram @esmurnimgl

Kuliner es dawet campur merupakan es yang paling dicari opleh pengunjung Malioboro. Es dawet campur terenak di sekitar ini persis di sebalah kiri dari lumpiah Samijaya. Es yang terbuat dari bahan yang mudah didapat yaitu buah kelapa muda, melon, alpukat, sawo, plus cendol, kolang kaling, tape hijau, cincau, selasih dan lain-lain. Rasanya sangat segar dan manisnya juga pas. Mungkin bagi anda yang kurang suka manis, anda bisa memesan sesuai selera. Menikmati udara Yogyakarta yang panas, es dawet campur ini sangat recommended untuk dinikmati pada saat berkunjung ke Malioboro. Dibandrol dengan harga 5 ribu-10 ribu rupiah, es khas orang Indonesia tidak membuat anda merasa enek.

Sate Kere

Sumber: Instagram @gembulfoodie

Siapa menyangka kalau sate kere merupakan sate khas Beringharjo yang paling dicari oleh pengunjung. Sate kere terlezat di Maliooro persis didepan pasar Beringharjo yang padat oleh lalu-lalang pengunjung tidak menyulitkan anda untuk tetap mencicipinya. Sate kere merupakan sate yang terbuat dari gajih atau lemak sapi. Berbahan baku dari lemak sapi inilah menghasilkan aroma asap dari bumbu yang khas serta banyak orang yang penasaran dengan panganan yang satu ini. Bumbu dendeng yang terbuat dari bawang putih, ketumbar, merica, gula jawa, dan berupa bumbu lainnya adalah bumbu utama sebelum sate dibakar untuk direndam kedalam bumbu terlebih dahulu. Bisa dibayangkan bumbu yang meresap kedalam sate sangat menggugah selera.

Sumber : https://wisato.id/wisata-kuliner/10-tempat-kuliner-terenak-di-malioboro-yang-harus-dicoba/

Sumber Gambar:
instagram.com/p/BYmuCMNFmfw/
instagram.com/p/BYX9Hd-nk2v/
instagram.com/p/BQU9SAqhfcp/
instagram.com/p/BH6aP72AfQ4/
instagram.com/p/BVxBB_zFlex/
instagram.com/p/BRXjW04gyRC/
instagram.com/p/BSIjHI5grod/
instagram.com/p/BWSVOm0HEmo/
instagram.com/p/BWzzkYsjRrf/
instagram.com/p/890rXdM-90/
instagram.com/p/BWtqBhMhvKv/

 

 

uba

Paket Jogja Heboh bulan Februari 2018

Beragam pilihan tour di Yogyakarta dengan harga HEBOH

Jogja HEBOH Paket 1

  • Jurang Tembelan, Kebun Buah Mangunan, Rumah Hobbit, Pinus Pengger

Jogja HEBOH Paket 2

  • Waduk Sermo, Pulepayung, Tebing Gajah

Jogja HEBOH Paket 3

  • Kaliadem Merapi, The World Land Mark, Taman Tebing Breksi

Jogja HEBOH Paket 4

  • Benteng Vredeburg, Museum Pesawat Terbang Dirgantara Mandala, Pantai Parang Tritis

 

harga mulai Rp 250.000 / pax

minimal 2 pax

Reservasi dapat dilakukan maximum 3 hari sebelum tanggal kedatangan

Fasilitas :

  • Transportasi dengan AC + BBM + Driver (Open Trip)
  • Tiket masuk obyek dan donasi
  • Karcis parkir
  • Air Mineral botol selama tour

updatebyAR

7 Scary Myths of Yogyakarta That Will Keep You Up At Night

Javanese mythology is a very important element of the vibrant Jogjakarta culture. In fact, these myths have withstood an even longer time than the ancient temples and palaces ruins that are scattered around the city. If you are planning a tour in Yogyakarta, or simply curious, we have uncovered 7 of the most interesting (and some spooky!) local folktales for you!

1. Prambanan Temple: The Myth of the 1000 Temples & The Cursed Princess

Prambanan Temple is the largest Hindu Temple site in Indonesia, and also one of the biggest in SEA. The massive temple site itself is a stunning sight to behold; surrounded by 999 individual temples is a towering beautiful temple standing at 47m high.

Modern engineers may argue that such a complex site need years of planning and construction, but legends dictate otherwise. The temple was, in fact, believed to be built overnight.

Once upon the ancient Yogyakarta time, there lived a mighty yet cruel ruler called Prince Bandung Bondowoso. The prince fell in love with the beautiful princess Rara Djonggrang, but failed to capture her heart as he outrageously killed her father. Desperate to keep the prince at bay, Princess Rara thought of a seemingly impossible task for the prince; she proposed that Prince Bandung build 1000 temples in a night for the exchange of her love. To complete the task, Prince Bandung meditated and gathered the help of supernatural beings. The builders worked diligently throughout the night and almost succeeded in their task. The witty princess saw this and instantly came up with a trick; she asked her servants to start burning hay to imitate the break of dawn and pound rice as normally done by the locals before the sun rises. The supernatural beings bought the trick and immediately left before finishing the 1000th temple as they feared the sun would appear. The princess managed to fool all but one; the mean Prince Bandung Bondowoso. So angered and betrayed was he by such deed, he cursed and turned the beautiful princess into the final temple. This temple is now known as the Rara Djonggrang temple, home to the most exquisite statue on the site that forever immortalize the beauty of the princess.

Tips from locals when visiting Prambanan Temple

The delicate statue of the beautiful princess is not the only belief that survived through time. Rumor has it that the curse of the betrayed lover still echo through the compound. As charming as Prambanan Temple is, local couples who are still dating will avoid visiting this site at all costs. It is believed that unmarried couples that visit Prambanan temple will have a doomed relationship, just like the creators of the temples.

2. Borobudur Temple: The Temple that Emerged from Beneath the Earth

Borobudur Temple is arguably the most famous ancient temple amongst the many that dot Yogyakarta. This ancient site is the most visited site of Indonesia for its extraordinary architecture, but the mysteries that surround it have also been the object of high fascination by historians and travelers alike.

The Borobudur is synonymous with mysticism; it was discovered in the 19th Century by the Dutch beneath layers of volcanic ash and jungle, and no ancient records about the temples were ever recovered. Today, Borobudur Temple is famous for both pilgrimage and a must visit attraction for tourists in Yogyakarta.

There are many exciting tales for the creation of this magnificent site. The most common belief is that Borobudur Temple was created in the 9th Century by the architect Gunadharma. And, if you look closely, you may catch the sight of Gunadharma taking an eternal break from the years of arduous Borobudur Temple construction. If you can’t find it, here’s a little clue:

Climb to the summit of the temple and look towards the South. What you will see is a stretch of lust green hill in a distant, the Gunadharma hill, taking the form of a resting man.

Other tales when visiting Borobudur Temple

The temple is also home to a notorious statue; Singa Urung. The word “urung” means “to separate” in Javanese, and the statue has earned its reputation by “separating” unmarried couples that walk past it. But fret not, if you happened to accidently walk through this statue with your partner, just head down straight to Kunto Bimo to reverse that curse!

3.  The sacred Banyan Trees: The Twins that Will Make Your Dreams Come True

Alun Alun Kidul (The Banyan Tree of the South) is probably one of Yogyakarta most iconic site. These massive trees that stand parallel to each other are also called the Gate to the South Sea; the mystical sea that is home to the Queen Nyai Roro Kidul.

The Twin Banyan Trees in Yogyakarta
The Twin Banyan Trees in Yogyakarta

Alun alun Kidul is located at the backyard of the once Keraton Palace. According to local beliefs, the sacred Mt Merapi is connected to the mysterious Parangritis Beach by an imaginary line, and the Keraton Palace is built along this line.

Over the centuries, these enormous trees have been attributed to possessing supernatural strength. In fact, the main role of the guardian trees is to shut off any evil intention that wish to reach the Palace. It is believed that only those with pure and kind intention could walk between the twin trees without steering off course.

According to traditional folklore whereby the beautiful daughter of Sultan Hamenkubuwono I chose her suitor based on the condition that he must walk in a straight line through the trees while being blindfolded. Out of the countless willing men, only one could succeed in doing so. In another belief, the trees were said to be the supernatural guardian of the Keraton Palace to keep off Dutch forces during their invasion.

4. Parangtritis Beach : A Place Duly Protected by the Ferocious Queen of the South Sea

The legend of the Queen of the South is a tale familiar to all Indonesians. The Queen is a legendary deity believed to be the ruler of Java’s Southern Sea for centuries and also the guardian of the Keraton family. Every year, the Keraton will throw a ceremony in appreciation of her protection in an event called Labuhan. On this day, great offering were given in the form of flowers, food and even the hair and nails of the Sultan.

The story of the Queen of the South Sea is no ordinary folkfore. In fact, most locals refer to the Queen with certain degree of fear. While the Queen is believed to be a protector, sometimes she may “attack” without warnings in the form of violent waves or missing beach visitors.

Ratu Kidul ( Queen of the South ), in Parangtritis beach, Yogyakarta
Ratu Kidul ( Queen of the South ), in Parangtritis beach, Yogyakarta

The history of Nyai Roro Kidul is believed to have been originated from as early as the 14th century during the reign of the Pajajaran Kingdom.

There once lived a very beautiful princess by the name of Dewi Kadita, and her alluring beauty drew the admiration of many. Unfortunately, there were those who were highly jealous of her charm and eventually cursed to become a hideous girl. The father of Dewi Kadita saw this as a sign of bad luck, and drove the poor princess away from the palace. As the princess sat by the sea and wept, she had a dream that the curse would be cured if she were to jump into the water. Dewi Kadita did just that, but not only was the curse reversed; she was also turned into a deity in the process. She was henceforth known as Nyai Roro Kidul, or the Queen of the South Sea, ruler of all creatures in the Southern sea of Java. To avenge her father, Nyai pledge to be the bride of all Mataram princes, the rival kingdom of her father.

Over the years, countless tales have emerged of men being swallowed by surprised currents as they walked along the shore. Legend has it that these men were captured by the Queen to be her guards. The queen is especially fond of the color green, as is said to only “capture” those who are clad in her favorite color.

5. Mount Merapi: Java’s Most Sacred Volcano or also Known as the “Kingdom of Spirits”

Standing proud at 2,968m high, Mt Merapi is considered as sacred to most Javanese. Literally means “fire mountain”, it is one of the most active and deadly volcanoes in the world.

Mount Merapi, Yogyakarta
Mount Merapi – Photo Credit to John Stanmeyer

Locals believe that Mt Merapi is guarded by many spirits, with different region of this sacred site guarded by a different presence. Out of the many notable mystical beings, two emerge as their rulers; Empu Rama and Empu Permadi. Their history date back to as early as the day of Java’s creation. According to beliefs, the island of Java was unbalanced when it was first created due to a presence of a massive mountain on its West End. As the Gods planned to move it to a central location in the island, Empu Rama and Empu Permadi showed their disagreement by blocking this said site. Unfortunately, the Gods were not very pleased; they turned the two men into eternal guardians for the new mountain site, which is now known as Mt Merapi.

The Yogyakartans have religiously carried the tradition of paying their respects for the spiritual protectors of the mountain. It is therefore very likely that you’ll chance upon offerings, such as yellow rice, scattered along the trek. In return, these protectors not only protect the sacred site, but sometimes gave advance massage of impending trouble to the locals living around the mountain. Legend has it that when the volcano is about to erupt, the North Guardian tends to make an appearance in the form of a cloud above the mountain as a warning sign.

Tips from  locals

Believed to be the “Kingdom of Spirits’’, visitors are advised to put on their best behavior during their visit so as not to anger the Gods. Visitors are advised not to point directly at the volcano, as doing so is a sign of disrespect. Also considered inappropriate is to call the volcano by its name; locals refer to it as “Si Mbah”, which means an elderly person.

Want to trek the Mount Merapi Volcano ? Find more information HERE.

6. Jomblang Cave : The Insanely Beautiful Cave with Insanely Dark Secrets

Located in Gunung Kidul, South Yogyakarta, Jomblang Cave is arguably the most divine natural wonder within the province. Inside this vertical cave is a 300m long walkway covered in thick vegetation leading to a spot where one could witness the “light beams from the heavens”.

Jomblang Cave, Yogyakarta
Jomblang Cave – Photo Credit to César González Palomo

The wondrous beauty of  Jomblang Cave may be incomparable, but believe it or not, this stunning site was once avoided by locals and travelers alike.

During the Indonesia’s Great Slaughter period in the 1960s, Goa Jomblang was used as the unfortunate site for the dumping of dead or injured bodies. Ever since, locals claimed to have occasionally hear cries for help coming from inside the caves, and many of the cave explorers have also remained missing to this day. The locals decided that something had to be done; they came together and made prayers in the cave. Till this date, there have been no more chilly tales of Goa Jomblang, only stories about its wild beauty.

7. Sukuh Temple: The Erotic Temple with Supernatural Gifts that will Tingle Your Spicy Senses

Amongst the exotic temples scattered within Yogyakarta, Sukuh Temple could perhaps be called the rebel due to its architecture and purpose. Built in the 13th Century,  Sukuh Temple is considered the youngest and naughtiest; by that we mean erotic!

Locating this fascinating temple itself require some guts and adventure. Found within the thick jungle of Gunung Lawu, Sukuh Temple is reminiscent of a Mayan temple, with the addition of exotic reliefs, such as one of a detailed human’s womb.

Locals believe that the temples have a truly unique function; Sukuh Temple can be used for testing (ehem) the virginity of women or the loyalty of men to their spouses.

Tips from locals:

Ladies: If you manage to walk up the steep and narrow steps on the surface of  Sukuh Temple without tearing your clothes, it shows that you are pure.

Men: If you managed to walk pass the relief of the human womb without the need of taking a leak, this signifies that you are a loyal man.

Candi Sukuh, Erotic Temple, Yogyakarta
Candi Sukuh, Erotic Temple, Yogyakarta

The tales shared by the locals are more than just stories; today, Jogjakartans hold annual ceremonies and offerings to the local legends, deities and spirits. The sites mentioned above are some of the must-visit attractions in Yogyakarta.

Yogyakarta is a city of myths and temples and you may hear of many other myths while being there. Do share with us other myths and tales about the city, we would be happy to hear about it! 🙂

By Isadora

Source : http://blog.eoasia.com/7-myths-temples-in-yogyakarta/